Winter in Tokyo (2016) | Film Review


Title: Winter in Tokyo (2016)
Director: Fajar Bustomi
Writer: Titien Wattimena
Based on: Winter in Tokyo by Ilana Tan
Cast: Dion Wiyoko, Pamela Bowie, Morgan Oey, Brandon Nicholas Salim, Kimberly Ryder, Brigitta Cynthia, Ferry Salim
Genres: Drama, Romance
Running Time: 103 minutes
Languages: Indonesian, Japanese
Rating: Teenagers over 13 years old (Remaja di atas 13 tahun)
Production Companies: Unlimited Production, Maxima Pictures


synopsis

Film “Winter in Tokyo” bercerita tentang Ishida Keiko (Pamela Bowie), seorang wanita blasteran Jepang-Indonesia yang tinggal di sebuah apartemen di pinggiran kota Tokyo. Keiko bekerja sebagai petugas perpustakaan. Ia menyimpan sebuah impian untuk bisa bertemu kembali dengan cinta pertamanya yang bernama Kitano Akira (Morgan Oey). Di sisi lain, Nishimura Kazuto (Dion Wiyoko) memutuskan kembali ke Tokyo setelah bertahun-tahun tinggal di New York. Hal itu disebabkan karena wanita yang selama ini ia cintai, Iwamoto Yuri (Kimberly Ryder) memutuskan untuk menikah dengan pria lain.

Saat musim dingin tiba, Keiko bertemu dengan Kazuto. Kehadiran Kazuto sebagai tetangga barunya, yang baru saja kembali ke Jepang setelah lama tinggal di Amerika itu membuat hidup Keiko yang awalnya kaku, menjadi lebih bersinar. Karena terus bersama-sama di sepanjang musim dingin, alhasil benih cinta tumbuh di hati Kazuto. Namun, Keiko justru memilih Akira.

Sebuah kejadian di suatu pagi, Kazuto terbangun dan tidak mampu mengingat apapun, bahkan semua yang pernah terjadi di antara Kazuto dan Keiko juga terlupakan. Pada saat itulah Keiko baru menyadari bahwa ia baru saja kehilangan seseorang yang sangat berarti dan telah menjadi bagian hidupnya.

Film Winter in Tokyo merupakan film drama romantis Indonesia yang diadapatasi dari novel berjudul sama karya Ilana Tan.

Winter in Tokyo tells the story of Ishida Keiko (Pamela Bowie), a Japanese-Indonesian who lives in a small apartment in the suburbs of Tokyo. Keiko works as a librarian. She has a dream to be reunited with her first love named Kitano Akira (Morgan Oey). On the other hand, Nishimura Kazuto (Dion Wiyoko) decided to return to Tokyo after years of living in New York. It was because of the woman she had loved so much, Iwamoto Yuri (Kimberly Ryder) decided to marry another man.

When winter comes, Keiko meets Kazuto. The presence of Kazuto as her new neighbour, who had just returned to Japan after a long stay in America made Keiko’s initially rigid life, becoming more radiant. As they spent their times together throughout winter, the seed of love grows in Kazuto’s heart. However, Keiko still chose Akira instead.

After an incident one morning, Kazuto woke up and was unable to remember anything, even everything that ever happened between Kazuto and Keiko was also forgotten. It was at that moment that Keiko realised that she had just lost a very important person and had become a part of her life.

Winter in Tokyo is an Indonesian romantic drama film adapted from a novel of the same title by Ilana Tan.


my-opinion

I know I usually review it in English but because this is an Indonesian film, I will review it in Bahasa Indonesia. But not to worry, for you who want to read this review in English, because I’ve also written it in English. You can scroll down below, after the Indonesian version, to find the English version of this review.

Sebelum masuk ke dalam versi bahasa Inggris, aku akan mulai dalam Bahasa Indonesia terlebih dahulu.

Winter in Tokyo mungkin adalah film Indonesia kedua yang pernah aku tonton di bioskop setelah Habibie & Ainun (2012). Aku memutuskan untuk menonton film ini karena film ini diadaptasi dari salah satu novel kesukaanku, yang ditulis oleh penulis kesukaanku juga, Ilana Tan. Sayangnya, pada mulanya aku tak berniat menonton film ini jika bukan karena Ilana Tan mengeluarkan cerita pendek tentang Keiko dan Kazuto setelah Winter in Tokyo. Bukunya harus dipesan pre-order dan 240 pembeli pertama akan mendapatkan tiket film bersama dengan buku cerita pendek tersebut. Karena aku sangat ingin buku itu, aku pun memesannya langsung dan tebak apa? Aku mendapatkan tiketnya! Aku datang ke premiere film Winter in Tokyo dan mengambil buku tersebut bersama dengan tiket filmnya, karena ternyata aku tak bisa mendapatkan hanya salah satunya saja. Oleh karena itu, aku harus datang ke premiere film dan mengambil buku serta tiket film. Anyway, mari kita bicarakan film ini.

Sejujurnya, aku tidak tahu banyak mengenai aktor dan aktris Indonesia, atau lebih tepatnya aktor dan aktris terbaru. Jangan tanya kenapa. Untungnya, aku mengetahui beberapa aktor dan aktris yang memerankan peran di Winter in Tokyo karena mereka bukan aktor dan aktris yang benar-benar baru. Sebelum film ini, novel Ilana Tan juga pernah diadaptasi menjadi film tapi film tersebut menuai banyak pro dan kontra. Banyak masalah yang timbul pada saat produksinya, termasuk pemilihan karakter perempuan utama. Aku tak akan bicara mengenai film itu karena aku belum menontonnya. Namun, aku rasa film Winter in the Tokyo lebih baik. Pemilihan aktor dan aktrisnya pun lebih baik karena mereka terlihat cukup mirip dengan novelnya. Tidak benar-benar sama, tapi cukup mirip. Setidaknya aku bisa membayangkan mereka masuk ke dalam cerita. Mereka terlihat seperti orang Jepang. Hal ini dibutuhkan karena cerita dalam buku—atau film— ini semua tentang Jepang.

“Kenapa harus takut gelap kalau ada banyak hal indah yang hanya bisa dilihat sewaktu gelap?”Nishimura Kazuto

Cerita dalam film tidak jauh berbeda dari buku. Tidak banyak yang berubah. Beberapa adegan digabungkan dengan adegan lainnya untuk keperluan film. Tentu saja hal seperti ini akan terjadi di film, bukan? Kita tidak bisa memasukkan semua hal dalam buku ke sebuah film yang hanya berdurasi 2 jam. Aku senang ceritanya tidak terlalu diganti. Bahasa yang digunakan dalam film adalah campuran bahasa Jepang dan bahasa Indonesia formal. Sesekali mereka memakai bahasa Indonesia, di lain waktu mereka menggunakan bahasa Jepang. Awalnya aku berpikir kalau hal itu cukup aneh, tapi seiring berjalannya film, aku merasa hal itu unik. Mereka menggunakan bahasa Indonesia formal sebagai budidaya bahasa kita. Jadi aku rasa itu hal yang cemerlang dilakukan. Bahasa gaul sehari-hari sekarang ini tidak begitu bagus untuk dibudidayakan di mancanegara. Jadi aku cukup senang mereka menggunakan bahasa Indonesia yang formal.

Aku rasa Dion Wiyoko cocok dengan peran ini. Ia berperan menjadi Nishimura Kazuto, tokoh utama dalam cerita ini. Hobi fotografi Dion Wiyoko cukup berguna dalam film ini karena Kazuto adalah seorang fotografer. Jadi dia tahu bagaimana cara menangani kamera. Akan tetapi, aku tak begitu yakin kalau dia cukup terlihat seperti orang Jepang, tapi aku merasa Pamela Bowie cukup terlihat seperti orang Jepang. Dia benar-benar cocok memerankan Ishida Keiko. Mengenai akting, akting Dion Wiyoko adalah lebih alami daripada Pamela Bowie. Aku tak bermaksud mengatakan kalau akting Pamela Bowie jelek, tapi aku merasa akting Dion Wiyoko terasa lebih alami. Tapi aku yakin kalau kedua aktor dan aktris ini telah memerankan peran mereka dengan sangat baik. Mereka berhasil membuat karakter Kazuto dan Keiko hidup. Ekspektasiku akan Kazuto sangat tinggi karena Nishimura Kazuto adalah salah satu karakter kesukaanku dalam sebuah novel. Jadi melihat Dion Wiyoko berhasil memerankan karakternya dengan sangat baik, aku sangat senang. Kazuto yang diperankan oleh Dion Wiyoko masih semanis dan setampan Kazuto yang ada di buku.

Seperti ayahnya, akting Brandon Salim pun terlihat sangat alami. Cukup menarik melihat Brandon dan ayahnya, Ferry Salim di satu film yang sama. Meskipun mereka tidak memerankan peran ayah dan anak dalam film ini, tetap saja melihat mereka dalam satu film yang sama adalah hal yang menarik. Ferry Salim adalah aktor yang sangat terkenal sejak lama dan bakatnya sepertinya menurun ke anaknya. Akting Ferry Salim pun tak perlu diragukan lagi. Dia berhasil memerankan perannya dengan sangat baik.

Sebagian besar aktor dan aktrisnya tidak bicara bahasa Jepang seperti orang Jepang sesungguhnya. Bahasa mereka tidak terlalu lancar dan sedikit canggung, tapi masih bisa diterima. Kita tetap perlu memuji mereka karena tidak mudah menguasai bahasa asing terutama ketika ini adalah pertama kali kita bicara dengan bahasa tersebut. Aku rasa para aktor dan aktrisnya bisa menggunakan bahasa Jepang yang lebih baik jika proses belajarnya lebih panjang, karena aku sudah pernah mendengar film Inodnesia lainnya yang menggunakan bahasa asing dengan aksen yang lebih baik. Tetap saja, aku tidak begitu terganggu dengan bahasa mereka yang tidak sempurna. Aku masih bisa menikmati ceritanya.

Sekarang, mari kita bahas mengenai ceritanya. Aku sudah membaca novelnya berkali-kali. Ceritanya begitu manis dan lucu. Setiap aku membacanya, aku akan tersenyum dan tertawa berulang-ulang. Yep, bukunya memang sebagus itu. Oleh karena itu, standarku pada film ini begitu tinggi. Aku rasa mereka telah memberikan porsi yang bagus antara komedi dan kisah cinta di film ini. Sebenarnya aku berharap lebih dari film ini karena aku membayangkan bagaimana Kazuto dan caranya memperlakukan Keiko. Tapi tetap aku merasa mereka telah membuat film ini dengan sangat baik. Masih manis, meski tak semanis di bukunya—aku serius, cerita di dalam bukunya benar-benar sangat manis. Akan tetapi film ini sudah cukup manis untuk membuatku tersenyum sesekali, hanya saja tidak setiap saat seperti saat aku membaca bukunya. Tetap ini adalah suatu hal yang menurutku pertanda bagus. Ada kalanya membaca buku terlebih dahulu daripada menonton filmnya bukanlah hal yang bagus karena kita jadi tidak berhenti membandingkan antara buku dan filmnya. Aku tahu keduanya pasti akan berbeda, tapi aku tetap saja akan membandingkannya. Aku rasa setiap orang pasti melakukannya jika mereka sudah membaca buku sebelum menonton filmnya. Beberapa adegan kesukaanku tidak ada di film, padahal kupikir adegan-adegan itu adalah adegan yang paling manis. Tapi ya, filmnya masih tetap bisa aku nikmati.Mungkin hal yang tidak aku suka dari film Winter in Tokyo adalah akhir ceritanya. Ya, aku memang selalu bermasalah dengan akhir cerita. Aku tak tahu ada apa denganku tapi aku memang selalu memiliki ekspektasi tersendiri pada akhir cerita.

Setting tempat yang digunakan pun terlihat sangat bagus. Semuanya terasa nyata karena mereka benar-benar melakukannya di Jepang, bukan di studio. Tidak seperti film yang sebelumnya. Oleh karena itu, jalan ceritanya pun terlihat lebih nyata. Pakaiannya pun terlihat bagus. Secara keseluruhan, setting film ini sangat baik dan aktor serta aktrisnya pun telah melakukan pekerjaan mereka dengan baik. Meski akting dari beberapa aktor atau aktris tidak terlihat sebaik beberapa aktor dan aktris yang lain dalam film ini, setidaknya mereka tetap bisa menghibur penonton. Jalan ceritanya yang bagus pun membuat hal-hal kecil seperti ini bisa sedikitnya diabaikan.

Mungkin hal yang tidak aku suka dari film Winter in Tokyo adalah akhir ceritanya. Ya, aku memang selalu bermasalah dengan akhir cerita. Jika kamu berharap akhir cerita film ini sama dengan buku, aku sarankan jangan. Karena akhir cerita film ini berbeda dengan bukunya. Apakah akhirnya masih bahagia? Well, aku tidak bisa bilang banyak karena hal ini bisa membocorkan ceritanya. Akhir ceritanya bagus dan kurasa lebih masuk akal di kehidupan nyata, tapi aku lebih suka akhir cerita di buku. Akan tetapi, aku masih memperdebatkan mengenai akhirnya. Apakah aku menyukainya atau tidak. Para pembuat filmnya sudah berkata kalau mereka tidak ingin membuat film yang sama dengan buku. Apa yang seru dari itu? Aku mengerti maksud mereka, tapi aku adalah seorang pembaca yang berganti menjadi penonton, jadi tentu saja aku berharap filmnya sama dengan buku. Anyway, ini hanya masalah kecil yang bisa aku abaikan. Setiap orang punya opini mereka masing-masing, benar? Film Winter in Tokyo masih memiliki cerita yang manis, romantis, lucu, dan yang paling penting, layak untuk ditonton.

Aku beri Winter in Tokyo 8 dari 10 bintang.

Winter in Tokyo is perhaps the second Indonesian film I’ve ever watched in the cinema after Habibie & Ainun (2012). I decided to watch Winter in Tokyo because it’s based on my favourite novel, written by my favourite author, Ilana Tan. Unfortunately, I never really intended to watch it until Ilana Tan released a short story that tells about the life of Keiko and Kazuto after Winter in Tokyo. The book is placed on a pre-order and the first 240 buyers will also get a film ticket along with the book of that short story. Since I really want the book so bad, I then pre-ordered the book and guess what? I get the ticket as well! I have to come to the premiere of Winter in Tokyo and take the book alongside the ticket for the film because apparently, I can’t have one without the others. Therefore, I should come to the premiere and get the book and the film ticket. This is my first time going to a film premiere like that. Anyway, let’s talk about the film.

To tell you the truth, I don’t know much about Indonesian actors or actresses, or should I say the newest ones. Don’t ask me why. Fortunately, I do know about some of the actors and actresses who played the characters here because they happen to be not-so-new actors and actresses. Before this film, another Ilana Tan’s novel is also made into a film but it wasn’t a major success because there are so many problems during the production. So many pros and cons, including the choice of the main female character. I can’t say much about it myself since I haven’t seen the film. However, I think this time, Winter Tokyo is better. The choice of actors and actresses is definitely better because they look quite like in the novel. Not exactly the same, of course, but similar. At least I can imagine them fit into the story. They all look pretty much Japanese enough. It’s necessary because the book is all about Japan.

“Why afraid of the dark when there are many beautiful things that can only be seen in the dark?”Nishimura Kazuto

The story in the film, compared to the book, doesn’t change much. Some scenes were combined with other scenes as well for film’s purposes. Well, of course, it happens, right? You can’t possibly put everything in the book to a less-than-2-hours film, don’t you think? But I’m glad it doesn’t change the story at all. The languages they used in this film are a mixture of Japanese and formal Indonesian. Sometimes they used Indonesian, another time they used Japanese. At first, I thought it was weird, but as the film goes on, I find it unique. And they are using formal Indonesian to cultivate the right way of our language. I think that’s a smart choice! Today’s slang words are just not that good to be cultivated worldwide. So I kind of glad they used a formal Indonesian language.

I think Dion Wiyoko really suits the role. He played the character of Nishimura Kazuto, the main character of the story. Dion Wiyoko’s hobby of photography is pretty useful in this story because of Kazuto also a photographer. So he knew how to handle a camera. However, I don’t know if Dion Wiyoko looks Japanese enough, but Pamela Bowie surely does. She really fits the role of Ishida Keiko. About the acting, I think Dion Wiyoko’s act is the most natural compared to Pamela Bowie. I mean, I’m not saying Pamela’s acting skill is bad but I just feel like Dion Wiyoko’s act is more natural. However, I am confident to say that both actor and actress have played their part really well. They managed to make the character of Kazuto and Keiko came to life. My expectations of Kazuto is pretty high since Nishimura Kazuto is one of my favourite characters in a novel. So to see Dion Wiyoko managed to embody the character really well, I am so glad. Dion Wiyoko’s Kazuto still as sweet and as handsome as the Kazuto in the book after all.

Like father like son, Brandon Salim’s acting is very natural. It’s interesting to see Brandon and his father, Ferry Salim in the same film. Although they weren’t playing the role of father and son in the film, still, it’s interesting enough to see them in the same film. Ferry Salim is indeed a very well-known actor since a long time and his talent is inherited to his son, apparently. You don’t have to doubt Ferry Salim’s acting. He managed to portray his character really good.

Most of the actors and the actresses didn’t speak their Japanese like the real Japanese. It’s not fluent enough and pretty awkward, but it is still acceptable. You still have to praise them because it’s not easy to master a foreign language especially when it’s the first time you speak of it. I think they can do better with a longer learning process because I’ve heard Indonesian films using foreign languages with a better accent. Still, I wasn’t really disturbed by the imperfect language. I can still enjoy the story.

Let me tell you about the story. You have to know that I’ve read the book so many times by now. The story is just too sweet and funny. Every time I read it, I will smile and laugh over and over again. Yep, the book is that good. That’s why my standards are high for this film. I think they put a good portion of comedy and love story here. I expect more from this film because I always imagine how Kazuto would be like and how he would treat Keiko. However, I think they really have done a good job in making the novel to a film. It’s sweet, though not as sweet as in the book—yeah, I know, the book is way too sweet. But the film is sweet enough to make me smile sometimes—no, not all the time like I did when I read the book, but still, it’s good enough. I think this is the downside why people should watch the film first rather than read the book because I can’t stop myself comparing the two of them, even though I know they are different. What can I say? I think all people will do that, right? Some of my favourite scenes are not in the film. I think those scenes are actually the sweetest one. But well, the film is still enjoyable.

The place setting used in the film is really beautiful. Everything seemed so real because they really shot the film in Japan, not in a studio. Unlike the previous film. That’s why the storyline feels more real. The costume is also looked very good. Overall, the setting of this film is really great and the actors and the actresses too have done a great job. Although some actors and actresses didn’t really act naturally like the other actors and actresses in the film, at least they managed to entertain the audience. The storyline is already so good, thus little things like that can be overlooked.

Perhaps what I don’t like about this film is the ending. Yeah, I know, again, the ending? What’s wrong me? So, if you’re expecting the same ending from this film with the book, please don’t. Because the ending is not the same. Is it still happy ending? It is. But why I don’t like it? Well, I can’t tell you that because it will spoil everything. It’s a good ending and I think it’s more make sense in the real world, but I like the ending from the book better. I don’t know. I’m still debating about the ending, though. Whether I like it or not, I still have no idea. The filmmaker said that they don’t want to make a film exactly the same as the book. What’s the fun in that? Yeah, I get their point of view, but I’m still a reader turn to film viewer, so of course, I expect the film would be like the book. Anyway, it’s just a minor flaw that I think we can overlook. Everyone can have their own opinion, right? Therefore, it’s not a big deal. Winter in Tokyo is sweet, romantic, funny, and most importantly, worth to watch.

I give Winter in Tokyo 8 out of 10 stars.

😘   Toodle-oo,

Advertisements

2 thoughts on “Winter in Tokyo (2016) | Film Review”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s